Masjid Jami Aulia Sapuro Pekalongan merupakan salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di kota pekalongan. Terletak di kawasan Sapuro, masjid ini memiliki nilai historis tinggi karena telah berdiri sejak ratusan tahun lalu dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Masjid ini dikenal sebagai tempat ibadah yang tidak hanya digunakan untuk salat, tetapi juga berbagai aktivitas sosial dan keagamaan seperti pengajian, kajian Islam, serta acara keagamaan tahunan.

Bangunan masjid jami aulia sapuro pekalongan memiliki arsitektur klasik yang masih dipertahankan, lengkap dengan ornamen khas masa lalu. Keunikan ini menjadikan masjid ini juga sering dikunjungi sebagai destinasi wisata religi, baik oleh warga lokal maupun wisatawan dari luar kota. Selain fungsinya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi simbol peradaban Islam di wilayah pekalongan yang terus hidup dan berkembang. Jika Anda berkunjung ke pekalongan, masjid jami aulia sapuro menjadi salah satu tempat yang layak untuk disinggahi.

Masjid Jami Aulia Sapuro Pekalongan

Masjid Jami Aulia Sapuro Pekalongan: Kejayaan Sejarah Islam di Kota Batik

Menelusuri Warisan Spiritual dan Sejarah Masjid Tertua di Pekalongan

Di tengah keramaian Kota Pekalongan yang terkenal sebagai “Kota Batik”, berdiri tegak sebuah peninggalan sejarah Islam yang sarat makna: Masjid Jami Aulia Sapuro. Beralamat di Sapuro Kebulen, Kec. Pekalongan Barat, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan saksi perjalanan awal dakwah Islam di wilayah Pantura Jawa. Masjid yang diperkirakan berdiri pada 1035 Hijriah (1614 Masehi) ini menjadi warisan budaya bernilai tinggi dan titik spiritual bagi umat Muslim di sekitarnya foto.espos.id+9NU Online+9Republika Online+9Akurat Jateng – Berita Jawa Tengah+3republika.id+3Pantura Post – Referensine Wong Pantura+3.


Sejarah Panjang Masjid Jami Aulia Sapuro

1. Berdiri di Bawah Pengaruh Demak Bintoro

Menurut catatan Yayasan Masjid, pendiri masjid ini adalah empat aulia (wali), yakni Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Nyai Kudung yang merupakan utusan dari Kerajaan Demak Bintoro GenPI.co+9batang.ayoindonesia.com+9batang.ayoindonesia.com+9.

Awalnya, mereka berencana mendirikan masjid di Alas Roban, Batang. Tetapi setelah menggelar salat istikharah, mereka melihat petunjuk bahwa daerah tersebut tidak tepat sebagai pusat permukiman. Akhirnya, pembangunan dipindahkan ke Sapuro, di dekat bantaran Kali Kupang Pantura Post – Referensine Wong Pantura+7NU Online+7batang.ayoindonesia.com+7.

2. Masjid Galuh Rantai yang Berubah Nama

Awalnya dikenal sebagai Masjid Galuh Rantai, nama tersebut merujuk pada sejumlah makam ulama di sekitar masjid. Baru pada tahun 1980-an, masjid ini berganti nama menjadi Masjid Jami Aulia, merujuk pada statusnya sebagai pusat spiritual para wali foto.espos.id+12Akurat Jateng – Berita Jawa Tengah+12Akurat Jateng – Berita Jawa Tengah+12.


Fitur Arsitektur dan Bangunan Kuno

1. Empat Soko Guru Bersejarah

Di dalam masjid berdiri empat tiang utama dari kayu jati, soko guru, yang menurut keyakinan berasal dari bangunan Masjid Agung Demak (1479 M). Tiap tiang memuat nama salah satu pendiri, menandakan ikatan spiritual dan arsitektural dengan Demak Bintoro GenPI.co+6NU Online+6batang.ayoindonesia.com+6.

2. Mimbar Kayu Klasik dan Masjid Tua Asli

Bagian dalam masjid juga menyimpan mimbar bergaya tradisional dan tempat imam yang dibuat dari kayu, menunjukkan kualitas kerajinan lokal yang masih lestari. Empat soko guru ini tidak hanya menyokong bangunan tapi juga menjadi simbol spiritualitas masjid batang.ayoindonesia.com+2JOGLOSEMAR NEWS+2Jawa Tengah Province+2.

3. Prasasti Abad ke-17

Tahun pendirian yaitu 1035 H tertulis dalam prasasti kaligrafi di pintu utama. Ini menjadikan masjid berusia sekitar 400 tahun, menjadikannya salah satu masjid tertua di Keresidenan Pekalongan Antara News+13Jawa Tengah Province+13Jawa Tengah Province+13.


Eksotisme dan Daya Tarik Religi

1. Al-Qur’an Raksasa sebagai Koleksi Ikonik

Salah satu hal unik dari masjid ini adalah keberadaan replika Al‑Qur’an raksasa berukuran sekitar 2 m x 2,3 m berisi juz 30, sumbangan Haji Rahmat dari Kraton Pekalongan sekitar tahun 1970-an. Al‑Qur’an ini kini menjadi magnet bagi para peziarah Jawa Tengah Province+1Jawa Tengah Province+1.

2. Wisata Religi dan Sarana Edukasi

Perpaduan arsitektur klasik, makam wali, dan Al-Qur’an raksasa menjadikan masjid ini destinasi religi sekaligus edukatif bagi peziarah, wisatawan, dan masyarakat setempat. Banyak pula yang datang untuk ziarah dan belajar sejarah Islam Nusantara .


Aktivitas Ibadah dan Sosial di Masjid

1. Shalat Harian dan Jumat

Masjid ini melaksanakan shalat lima waktu dan Jumat secara rutin. Masyarakat lokal dan sekitarnya mengambil bagian aktif sebagai jamaah, menjaga tradisi spiritualnya .

2. Pengajian, Tahlil, dan Ziarah

Ritual pengajian rutin, acara tahlil, dan majelis taklim digelar secara berkala. Pengunjung juga sering datang untuk berziarah ke makam para wali, yang memberi makna spiritual mendalam.


Pelestarian dan Rehabilitasi Masjid

1. Rehabilitasi Berlapis Abad

Sejak 1970-an, telah dilakukan beberapa tahap rehabilitasi yang memadukan pelestarian bangunan asli dengan peningkatan struktur, tanpa menghilangkan nuansa asli masjid .

2. Dukungan Masyarakat dan Instansi

Pengurus yayasan, masyarakat lokal, dan Pemprov Jateng mendukung upaya pelestarian, termasuk restorasi tiang, lantai, dan fasad, sehingga struktur kayu jati tetap kokoh dan estetika aslinya terjaga .


Letak Strategis dan Akses Publik

Lokasi dan Rute Mudah

Berada di Sapuro Kebulen, dekat bantaran Kali Kupang, masjid ini mudah dijangkau dari pusat Kota Pekalongan dan terminal. Meski tidak berada di tepi jalan utama, papan penunjuk memudahkan wisatawan dan peziarah Akurat Jateng – Berita Jawa Tengah+12NU Online+12Akurat Jateng – Berita Jawa Tengah+12.

Akses Transportasi

Akses mudah melalui kendaraan pribadi, angkutan kota, taksi online, atau becak. Area parkir sederhana namun cukup untuk kendaraan kecil.


Tips Kunjungan dan Etika di Masjid

  1. Datang pada pagi hari atau sebelum salat Jumat agar mendapatkan ruang dan ketenangan yang optimal.

  2. Kenakan pakaian sopan, serta hormati suasana ruang ibadah.

  3. Ketika berziarah, jagalah kebersihan dan doa, terutama saat mengunjungi makam wali.

  4. Bersilatuhrahim dengan takmir, bisa menambah wawasan sejarah lokal dan agama.


Signifikansi Masjid Jami Aulia di Masa Kini

Masjid Jami Aulia Sapuro bukan sekadar bangunan sejarah. Ia adalah titik awal penyebaran Islam di Pantura Jawa dan simbol akulturasi budaya Jawa–Islam. Peranannya terus berkembang sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan sejarah religius, bagi masyarakat lokal dan pengunjung dari luar kota.


Penutup: Menjaga Warisan, Meneruskan Hikmah

Masjid Jami Aulia Sapuro Pekalongan adalah bukti nyata bentang panjang sejarah Islam di Jawa. Empat abad lebih usianya, menjadi saksi dakwah, ajaran, dan akulturasi budaya yang kaya. Kunjungan ke sini bukan hanya perjalanan spiritual, tapi juga pelajaran sejarah yang dalam.

Scroll to Top